Pemerintah buat tanggul “ban insang” cegah abrasi di Ampenan Mataram

Pemerintah buat tanggul “ban insang” cegah abrasi di Ampenan Mataram

tribun-nasional.com – Pemerintah akan membuat tanggul dengan menerapkan metode “ban insang” untuk mencegah abrasi pantai di pesisir Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, guna mengantisipasi terjadinya gelombang pasang saat cuaca ekstrem. .

Seperti dikabarkan Camat AmpenanMuzakir Walad di Mataram, Rabu, metode ban insang adalah membuat tanggul menggunakan ban mobil bekas yang dibelah menjadi dua, kemudian disusun seperti insang ikan.

“Dengan teknik ini, ketika terjadi gelombang pasang maka pasir dari laut akan mengendap di ban terbuka, sehingga dalam waktu lama terjadi tumpukan pasir dan akan terlihat seperti daratan yang menjorok ke arah laut,” katanya.

Menurutnya, ide menggunakan metode ban insang tersebut bersumber dari hasil komunikasi yang dilakukan dengan Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) yang sudah pernah mencoba metode itu.

Selama ini pembuatan tanggul darurat bagi warga di pesisir Pantai Ampenan, dibuat menggunakan karung berisi pasir, kemudian dipasak dengan bambu. Hanya saja, upaya itu dinilai kurang efektif, sebab seringkali karung berisi pasir tersebut ikut hanyut ketika gelombang pasang.

“Karena itulah, tahun ini kita coba membuat tanggul dengan teknik ban insang,” katanya.

Dikatakan, pembuatan tanggul dengan teknik ban insang direncanakan sepanjang tiga kilometer dari Kampung Bugis hingga Bintaro wilayah Ampenan. Pembuatan ban insang akan dilakukan secara bertahap.

Untuk tahap awal akan dimulai dengan memasang 500 ban bekas yang sudah dibelah menjadi dua sehingga menjadi 1.000 unit.

“Sekarang kami sudah mulai dengan membeli ban bekas secara bertahap. Jika teknik ini berhasil, maka bisa menumbuhkan partisipasi masyarakat sekaligus pemanfaatan barang bekas,” katanya.

Di samping itu, tambahnya, inovasi ban insang tersebut akan diusulkan masuk IGA (Innovative Government Award) Tahun 2023.

Harapannya, melalui metode ban insang ini masyarakat yang berada di sempadan pantai bisa terhindar dari ancaman abrasi pantai yang setiap tahunnya terjadi saat musim angin barat.

“Apalagi, warga di Kecamatan Ampenan yang masih tinggal di sempadan pantai terdata sekitar 300 kepala keluarga,” katanya.

error: Content is protected !!