Kelompok Barongsai Lampung mulai ramai terima pesanan atraksi

Kelompok Barongsai Lampung mulai ramai terima pesanan atraksi

tribun-nasional.com – Kelompok kesenian Barongsai di Bandarlampung mulai ramai menerima kembali pesanan atraksi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2574 kongzili setelah beberapa tahun sepi pesanan.

“Tahun ini sepertinya perayaan Tahun Baru Imlek akan lebih ramai di banding tahun sebelumnya karena tidak ada pembatasan dan ini membuat kami bersemangat lagi,” ujar Ketua Kelompok Kesenian Barongsai Darma Bakti, Surya Dinata, di Bandarlampung, Rabu.

Ia mengatakan selama tiga tahun terakhir kelompok kesenian Barongsai di Bandarlampung banyak yang tidak melakukan atraksi akibat adanya pembatasan kerumunan.

“Tahun ini sudah mulai ramai lagi, untuk malam Imlek sudah ada pesanan atraksi ke wihara di sekitar Bandarlampung dan mungkin nanti ada di beberapa tempat lainnya saat Imlek,” katanya.

Dia menjelaskan pada perayaan Tahun Baru Imlek sebelum pandemi COVID-19 berlangsung kelompok kesian Barongsai tersebut ramai mendapat pesanan atraksi seperti di hotel, swalayan, wihara, hingga dari rumah ke rumah.

“Dulu sebelum COVID-19 memang ramai, kalau saat ini kondisinya kita baru mulai lagi dari tahun sebelumnya yang benar-benar tidak ada atraksi. Jadi tampil menghibur masyarakat di empat wihara ini sudah senang, serta nanti mungkin ada tambahan undangan atraksi di beberapa tempat lainnya,” ucapnya.

Ia melanjutkan dengan jumlah anggota 20 orang, dengan 4 unit Barongsai, latihan fisik bagi para pemain Barongsai sudah dimulai sejak dua bulan lalu guna mempersiapkan atraksi.

“Latihan fisik sudah sejak November tahun lalu karena saat tampil durasi sekitar 30 menit sampai 1 jam maka harus benar-benar dilatih untuk meminimalisir cedera, terlebih lagi ini jadi penampilan kita yang pertama setelah beberapa tahun berhenti sementara,” ujarnya.

Menurut dia meski banyak anggota kelompok kesenian Barongsai di Lampung bukanlah warga Tionghoa, namun para pemuda tersebut terus berusaha melestarikan kesenian khas etnis Tionghoa tersebut.

“Kebanyakan yang main orang Jawa, Sunda, Banten jarang orang Tionghoa. Tapi kita tetap ingin melestarikan ini karena memang sudah jadi budaya kita. Jadi tahun depan akan ada regenerasi juga untuk pemain Barongsai diambil usia 13 tahun agar tidak hilang budaya ini. Kalau bukan kita ya g melestarikan siapa lagi,” ujar dia pula.

error: Content is protected !!