Tidak Hanya Menyenangkan, Mainan juga Bisa Membuat Anak Mudah Bersosialisasi

Tidak Hanya Menyenangkan, Mainan juga Bisa Membuat Anak Mudah Bersosialisasi

tribun-nasional.com

    6SHARES

Lego Friends

Dream – Selain menyenangkan, bermain juga menambah kemampuan anak. Salah satu kemampuan yang bisa dikembangkan saat bermain adalah bersosialisasi.

Tidak semua anak mampu bersosialisasi dengan baik ketika bertemu dengan orang lain di sekolah atau tempat lain tanpa kehadiran orangtua. Itulah mengapa orangtua penting untuk memupuk kemampuan sosialisasi anak agar bisa berbaur dengan baik.

© Istimewa

Adapun jenis permainan yang bisa digunakan untuk memupuk kemampuan tersebut adalah role-playing. Anak bisa bermain dengan berbagai karakter mainan yang menggambarkan suasana di kehidupan nyata. Sehingga, anak bisa berlatih bagaimana harus bersikap pada orang lain dan bersosialisasi dengan baik.

” Role-playing sering digunakan untuk anak belajar kemampuan bersosialisasi dan cara menghadapi situasi yang sulit. Mereka bisa belajar dari permainan tersebut yang menjadi media paling aman untuk mengetahui cara berteman,” ujar Eugenia Tan, Psikolog Anak dalam peluncuran Lego Friends Reboot, Kamis 27 Oktober 2022.

© Lego

Foto: Lego

Selain itu, orangtua bisa menunjukkan situasi yang akan dihadapi anak ketika bersosialisasi di dunia nyata dan mengajarkan bagaimana cara menghadapinya.

” Anak itu akan mencontoh orangtuanya. Begitu juga ketika ingin mengajarkan anak untuk menerima perbedaan. Anak harus merasa aman ketika menerima perbedaan. Jadi, anak akan tahu apa yang harus dibatasi dan diterima, atau ditoleransi serta dihargai” .

Tidak hanya mempermudah anak untuk bersosialisasi, permainan role-playing juga membuat mereka lebih mudah berekspresi. Apalagi, jenis permainan berkarakter semakin beragam.

© Istimewa

” Saat bermain merupakan kesempatan yang tepat bagi anak lebih mudah mengekspresikan situasi mereka ketika bersama teman-teman dan bagiamana cara mereka bersosialisasi,” ujarnya.

Siapkan Mental Anak, Ibu Sampai Bikin Simulasi Bully

Dream – Kasus perundungan atau bully bisa dibilang termasuk hal yang paling menyesakkan hati orangtua. Seringkali anak tak bercerita perlakuan buruk dari pelaku perundungan pada orangtuanya, sampai berujung fatal bahkan nyawa taruhannya.

Efek dari perundungan ini juga begitu besar. Bukan hanya trauma fisik tapi juga psikis yang berdampak bukan hanya pada korban, tapi juga keluarga. Maraknya kasus perundungan saat ini, sebagai orangtua penting bagi kita untuk membekali anak.

Salah satunya bisa menerapkan trik seperti yang dilakukan pemilik akun Instagram @dessy_firman6712. Ia membuat simulasi situasi perundungan yang bisa dialami putrinya.

© TikTok @dessy_firman6712/

Videonya Banyak Menginspirasi

Mulai dari perundungan secara verbal yang menyerang mental dan menghadapinya. Seperti langsung pergi saja dan tak menghiraukan atau menjawabnya dengan berani bicara.

Termasuk juga ketika diserang secara fisik. Belajar menangkis serangan agar serangan tak semakin mengerikan. Lihat saja videonya.

Banyak para orangtua yang terinspirasi untuk membekali anak-anaknya dengan simulasi seperti ini. Komentar pun bermunculan.

” wah perlu bgt ini buat ngajarin ke anak, untung aku ngeliat vodeonya sebelum anak ku masuk sekolah. Makasih mom,” ungkap salah satu akun komentar lainnya.

” Keren nih bakal aku ajarin ke anakku,” tulis warganet.

Bukan Dibilang ‘Cengeng’, Psikolog Ingatkan Validasi Emosi Anak

Dream – Rasa empati, peduli dengan orang lain dan sekitar, tak mau merugikan dan menyakiti orang lain bukan muncul dalam sekejap. Empati perlu diasah sejak dini, dengan menormalkan anak merasakan berbagai emosi.

Seringkali kita sebagai orangtua saat anak sedang bahagia mendapat nilai bagus, hadiah atau karena hal lain, memberinya senyuman, tepuk tangan atau pelukan. Sementara ketika anak bersedih, marah, kecewa, kita memintanya segera menghentikan tangisan.

Tak hanya itu kadang juga terlontar kata-kata yang melabelinya seperti ” cengeng” , ” manja” , ” nakal” dan sebagainya. Hal ini seakan anak tak boleh merasakan emosi negatif sebagai manusia biasa, padahal hal itu sangat normal.

Samanta Elsener, seorang psikolog lewat akun Instagramnya @samanta.elsener mengungkap kalau mengakui emosi anak lalui memvalidasinya memang bukan hal mudah. Orangtua perlu belajar dan latihan. Hal ini sangat penting untuk perkembangan emosi anak dan mengasah empatinya agar juga bisa mengenali emosi orang lain dan bagaimana menyikapinya.

© Dream

” Emang paling susah belajar mengenali emosi anak, terus divalidasi pula. Kenapa harus divalidasi bukannya nanti makin jadi nangisnya? Makin susah disuruh berhenti nangis. Lha, emang kenapa sih kalau anak nangis? Boleh donk anak nangis. Itu bentuk ekspresi emosi anak lho. Kalau divalidasi anak jadi tahu orang tuanya paham perasaan dia dan bisa berempati ke anak,” ungkap Samantha.

Kalimat Validasi Emosi

Menyuruh anak berhenti menangis sambil meneriaki, mengancam atau menakut-nakutin justru akan membuat emosi anak tak sehat. Merasa tak didengarkan dan membuat jarak dengan orangtua

” Kalau disuruh berhenti nangis apalagi pakai jerit teriak dan mengancam, anak makin merasa terancam dan makin jauh dari orangtua,” tulis Samantha.

Ia pun membagikan cara bagi orangtua untuk melakukan validasi pada anak yang sedang memiliki emosi negatif. Kalimat-kalimat berikut bisa digunakan. Seperti ” kelihatannya kamu sedih banget dengan apa yang baru saja terjadi” .

Kalimat lainnya ” mama perhatikan kamu merasa excited dan nervous juga secara bersamaan” , ” kamu terlihat lagi kesal/ kecewa, mama ada di sini sama kamu” .

Lihat video menarik yang dibuat oleh Samantha.