Wajit Cililin

Wajit Cililin

tribun-nasional.com – Melihat penganan ini serta merta pikiran orang Sunda tertuju pada sebuah wilayah di selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB): Cililin. Setali tiga uang dengan penyebutan penganan dodol (Garut), tauco (Cianjur), peuyeum (Bandung), dan tahu (Sumedang).

Wajit, sebuah penganan berbahan utama beras ketan, gula aren, dan kelapa yang dibungkus daun jagung kering. Rasa khasnya manis. Di Jawa Tengah dikenal dengan sebutan wajik. Di Sumatra orang menyebutnya pulut manis. Di Sulawesi disebut baje.

Wajit menjadi ikon Cililin. Namun demikian, belum sepopuler dodol garut yang sudah menasional. Padahal, usaha keluarga secara turun-temurun ini sudah dimulai sejak pra-kemerdekaan (1916). Sudah lama sekali, bukan?

Resesi ekonomi negara ini pada 1997 berdampak pada kuantitas pengusaha wajit di Cililin yang menurun. Sebagai entitas usaha mikro pada umumnya, melonjaknya bahan baku menyebabkan beberapa pengusaha gulung tikar.

Lain dulu lain kini. Beberapa pengusaha wajit, kini melakukan pengembangan. Inovasi berupa penambahan varian rasa: durian, nangka, dsb. Sebuah terobosan! Alhasil, menurut sang inovator, penjualannya sampai ke mancanegara.

Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan destinasi wisata di bagian selatan KBB, jumlah pengusaha wajit tampak bertambah. Deretan kios sepanjang jalan menuju titik nol Cililin dan setelahnya semakin banyak. Makanan ringan lainnya turut meramaikan: angleng, lamaya, kerupuk dan dodol kacang.

Sebagian pengusaha masih teguh mempertahankan wajit dengan bahan dan bentuk awal sebagai sebuah warisan leluhur. Lain pihak, ada yang membuat pengembangan dengan menambahkan varian rasa tanpa meninggalkan bahan asalnya. Manasuka prinsip dalam berbisnis.
*

Jika rasa sudah bicara, harga jadi nomor dua. Wajit memang legit. Lengket memanjakan lidah penyuka manis. Diimbuhi air teh panas, memang pas.

**

error: Content is protected !!