Mulai Mendingin, Batu Bara Melemah 4,09% Pekan Ini

Mulai Mendingin, Batu Bara Melemah 4,09% Pekan Ini

tribun-nasional.comJakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara terus melandai pekan ini dan bahkan sempat mencapai level terendah dalam lebih dari 2,5 bulan. Pada perdagangan Jumat (28/10/2022), harga batu bara kontrak November di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 374 per ton atau melemah 4,09% dalam sepekan secara point-to-point.

Sebelumnya, harga batu bara pada perdagangan Kamis (27/10) sempat tercatat berada di posisi terendah sejak 8 Agustus 2022 atau lebih dari 2,5 bulan terakhir di harga US$ 372,35, sebelum rebound pada perdagangan hari terakhir pekan ini.

Dalam sebulan harga batu bara telah melemah nyaris 11%, sedangkan dari posisi puncak di awal September lalu harga acuan global komoditas ekspor utama RI ini telah ambles nyaris 20%. Akan tetapi harga batu bara terbaru masih 146% lebih tinggi dari perdagangan sejak awal tahun ini.

Pelemahan harga batu bara pekan ini memperpanjang tren negatif batu bara yang berada dalam trejektori turun dalam beberapa pekan ke belakang. Bahkan sebelum naik pada perdagangan hari terakhir pekan ini, harga batu bara sempat melemah sepanjang lima hari perdagangan beruntun, pertama kalinya terjadi sejak September.

Permintaan Diproyeksi Mendingin

Pelemahan terus terjadi setelah sejumlah lembaga memproyeksi permintaan terhadap batu bara akan melemah. Administrasi Informasi Energi (EIA) dalam laporannya memperkirakan produksi batu bara AS naik hingga 20 juta short ton menjadi 598 juta short ton atau 542,5 juta ton pada 2022.

Namun, secara porsi produksi listrik AS dari pembangkit batu bara secara keseluruhan akan turun dari 23% pada 2021 menjadi 20% pada 2022 dan 19% pada 2023.

“Pertumbuhan porsi dari pembangkit energi terbarukan membatasi pertumbuhan produksi listrik dari gas alam dan batu bara. Porsi mereka akan terus menurun karena sejumlah pembangkit batu bara berhenti beroperasi,” tulis EIA.

Produksi listrik pembangkit batu bara diperkirakan akan lebih rendah 6% pada 2022 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2021, produksi listrik pembangkit batu bara naik 16% pada 2021 karena naiknya permintaan listrik.

Sebelumnya, perusahaan riset pasar McCloskey memperkirakan harga batu bara Eropa diperkirakan akan melandai pada tahun depan karena membaiknya pasokan dan melemahnya permintaan.

McCloskey memperkirakan harga batu bara akan bergerak di bawah US$ 250 per ton pada 2023 dan di bawah US$ 200 per ton pada 2024

Sementara itu, Fitch Solutions mengatakan tingginya harga gas dunia membuat negara-negara Asia dan Eropa meningkatkan penggunaan batu bara dalam jangka pendek. Kondisi ini ikut mendongkrak harga batu bara tahun ini.

“Namun, kami memperkirakan kapasitas pembangkit batu bara akan menurun dalam jangka panjang karena komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca” tutur Fitch, dikutip dari Reuters.

Fitch memperkirakan produksi listrik dari pembangkit batu bara di Eropa akan turun dari 540 terra watt hour (TWh) pada 2022 menjadi 490 TWh pada 2031 sejalan dengan peningkatan energi hijau.

TIM RISET CNBC INDONESIA