Awal Pekan, Rupiah Loyo Lagi..Tapi Mata Uang Ini Lebih Parah!

Awal Pekan, Rupiah Loyo Lagi..Tapi Mata Uang Ini Lebih Parah!

tribun-nasional.comJakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS) hingga pada pertengahan perdagangan Senin (31/10/2022), seiring dengan terkoreksinya mata uang di Asia. Apa penyebabnya?

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terkoreksi pada pembukaan perdagangan sebesar 0,11% ke Rp 15.565/US$. Kemudian, rupiah melanjutkan pelemahannya sebesar 0,24% ke Rp 15.585/US$ pada pukul 11:10 WIB.

Pekan ini, menjadi pekan yang besar untuk pelaku pasar dapat mencermati beberapa rilis data ekonomi. Dari dalam negeri, pada Selasa (01/11/2022), Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Oktober 2022. Konsensus analis Trading Economics memprediksikan angka inflasi akan meningkat tipis menjadi 6% secara tahunan (yoy) dari 5,95% pada bulan sebelumnya.

Sisi lainnya, pelaku pasar kembali cemas bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan menurunkan keagresifannya dalam menaikkan suku bunga acuan setelah rilis data belanja konsumen menguat di tengah inflasi yang meninggi.

Pada Jumat (28/10), Departemen Tenaga Kerja AS merilis belanja konsumen pada September 2022 yang naik 0,6% secara bulanan dan melampaui ekspektasi analis di 0,4%. Kenaikan tersebut terlihat pada sektor jasa, rumah, sektor transportasi udara dan perjalanan internasional.

Padahal, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 300 bps di sepanjang tahun ini untuk meredam inflasi yang tinggi dan bertahan cukup lama di level 8%. Angka pengeluaran masyarakat berkontribusi 80% pada PDB AS.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ekonomi AS masih kuat meskipun The Fed agresif untuk meredam inflasi dengan memperlambat perekonomian. Maka dari itu, analis memprediksikan bahwa The Fed masih akan agresif untuk menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan 1-2 November 2022 waktu AS.

Melansir FedWatch, sebanyak 81% analis memprediksikan bahwa Fed akan agresif menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 75 bps dan mengirim suku bunga acuan menjadi 3,75%-4% pada pekan ini. Namun, sisanya memproyeksikan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps.

Senada, analis pada perbankan ternama juga memperkirakan The Fed masih akan agresif pada pekan ini karena ekonomi AS tangguh meski inflasi tinggi.

“Pasar agak mengharapkan poros Fed pada kebijakan moneter. Saya pikir itu terlalu dini, mengingat betapa tangguhnya ekonomi dan khususnya seberapa tinggi inflasi,” kata Ahli Strategi Mata Uang di Commonwealth Bank of Australia (CBA) Carol Kong dikutip Reuters.

Kekhawatiran tersebut membuat indeks dolar AS yang menyandang status sebagai safe haven diuntungkan. Namun, pada pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terpantau stagnan di posisi 110,7 setelah menguat dari posisinya pekan lalu yang sempat melandai hingga ke posisi 109,5.

Di Asia, mayoritas mata uang tertekan oleh si greenback, di mana hanya dolar Hong Kong yang stagnan. Sementara, dolar Taiwan melemah paling tajam sebesar 0,32%, disusul oleh yen Jepang yang terkoreksi 0,28% terhadap dolar AS.

Mata Uang Garuda dan baht Thailand juga terdepresiasi yang masing-masing sebesar 0,24% dan 0,21% terhadap dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA